Banyak siswa punya cerita atau pendapat yang layak dibagikan, tapi berhenti di langkah pertama karena bingung harus mulai dari mana. Cara menulis blog untuk siswa sebenarnya tidak jauh berbeda dengan menulis tugas biasa, hanya saja lebih bebas dan pembacanya lebih luas. Tujuh langkah di bawah ini bisa kamu ikuti berurutan tanpa perlu perangkat atau akun berbayar.
1. Tentukan satu topik yang benar-benar kamu kuasai
Topik pertama sebaiknya diambil dari hal yang kamu alami sendiri. Kamu pernah ikut lomba, belajar materi tertentu sampai paham, atau punya kebiasaan belajar yang berhasil menaikkan nilai. Semua itu bahan tulisan yang kuat karena kamu tidak perlu mengarang isi.
Hindari memilih topik besar seperti “pendidikan di Indonesia” untuk tulisan pertama. Terlalu luas, dan kamu akan berhenti di tengah karena tidak tahu bagian mana yang mau dibahas. Perkecil lingkupnya, misalnya cara kamu menghafal rumus atau pengalaman mengikuti seleksi beasiswa sekolah.
2. Tentukan satu pembaca dan satu tujuan
Sebelum menulis, bayangkan satu orang yang akan membaca tulisanmu. Teman satu kelas yang sedang kesulitan belajar, adik kelas yang baru masuk, atau siswa lain yang ingin ikut lomba sepertimu. Ketika pembacanya jelas, pilihan kata dan contoh jadi lebih mudah diambil.
Tujuan tulisan juga perlu satu saja: memberi tahu langkah, membagikan pengalaman, atau meyakinkan pembaca pada suatu pendapat. Tulisan yang mencoba melakukan ketiganya sekaligus biasanya jadi berantakan di bagian tengah.
3. Kumpulkan bahan sebelum mulai menulis
Bahan bukan hanya buku atau artikel. Catatan pelajaran, tangkapan layar percakapan, dan pengalaman pribadi kamu sendiri bisa dipakai, asal kamu tulis ulang dengan bahasamu. Simpan semua bahan di satu tempat supaya tidak tercecer saat menyusun draf.
Kalau topikmu berkaitan dengan tugas sekolah, bandingkan dulu dengan tulisan yang sudah ada di situs ini agar gayamu tidak meniru mentah-mentah. Kamu bisa melihat contoh struktur pada cara menulis blog untuk tugas sekolah sebelum menentukan format tulisanmu sendiri.
4. Susun kerangka sederhana dengan tiga bagian
Kerangka membuat proses menulis jauh lebih cepat karena kamu tidak perlu memikirkan alur di tengah jalan. Format paling dasar terdiri dari pembuka, isi, dan penutup, dengan isi dipecah lagi sesuai jumlah poin yang mau kamu sampaikan.
- Pembuka: jelaskan masalah atau situasi yang membuatmu menulis topik ini, dua sampai tiga kalimat.
- Isi: satu subjudul untuk setiap poin, masing-masing berisi dua sampai empat paragraf pendek.
- Penutup: rangkum inti tulisan dan beri satu saran yang bisa langsung dilakukan pembaca.
Kerangka berbentuk daftar bernomor biasanya paling mudah dikerjakan siswa karena setiap poin punya batas yang jelas. Setelah selesai, kamu tinggal mengubah nomor menjadi subjudul dan menambahkan penjelasan.
5. Mulai menulis draf tanpa menyunting
Kesalahan paling umum adalah menyunting sambil menulis. Akibatnya, kamu menghabiskan satu jam untuk dua paragraf pertama dan kehabisan tenaga sebelum sampai ke inti. Tulis dulu semuanya, biarkan kalimat jelek dan ejaan salah, lalu perbaiki di tahap berikutnya.
Kalau macet di tengah, tinggalkan kalimat itu dan lanjut ke poin berikutnya. Bagian yang kosong bisa kamu isi belakangan saat sudah tahu arah keseluruhan tulisan. Menulis blog itu proses bertahap, bukan sekali jadi.
6. Sunting dengan memeriksa empat hal ini
Tahap penyuntingan menentukan apakah tulisanmu enak dibaca atau melelahkan. Periksa empat hal secara berurutan supaya tidak ada yang terlewat.
- Alur: apakah setiap paragraf menyambung dengan paragraf sebelum dan sesudahnya.
- Kalimat panjang: potong kalimat yang lebih dari dua baris menjadi dua bagian.
- Ejaan dan tanda baca: periksa huruf kapital, tanda koma, dan penulisan kata baku.
- Judul: pastikan judul menggambarkan isi dan tidak menipu pembaca.
Kalau kamu sering menulis di ponsel, atur dulu tampilan aplikasi catatanmu supaya nyaman dipakai menyunting. Perbandingan aplikasi yang bisa dipakai untuk menulis draf ada di perbandingan aplikasi menulis catatan sekolah, berguna kalau kamu ingin menyusun tulisan dalam beberapa sesi.
7. Terbitkan dan minta satu masukan
Tulisan yang disimpan di catatan pribadi tidak akan membuat kemampuanmu berkembang karena tidak ada yang membaca. Terbitkan di blog pribadi, blog kelas, atau platform menulis apa pun yang kamu nyaman memakainya. Yang penting, tulisan itu bisa diakses orang lain.
Setelah terbit, minta masukan dari satu orang saja, misalnya guru bahasa Indonesia atau teman yang rajin membaca. Tanyakan bagian mana yang paling membingungkan, bukan apakah tulisannya bagus. Pertanyaan seperti itu menghasilkan masukan yang bisa langsung kamu pakai untuk tulisan berikutnya.
Kesalahan yang sering dilakukan siswa saat mulai menulis blog
Beberapa kebiasaan ini muncul hampir di setiap tulisan pertama. Mengenalinya lebih awal menghemat banyak waktu.
- Menulis terlalu banyak topik dalam satu artikel sehingga tidak ada yang dibahas tuntas.
- Menyalin kalimat dari sumber lain tanpa menulis ulang dengan bahasa sendiri.
- Menunggu suasana sempurna, padahal menulis lima belas menit setiap hari lebih produktif.
- Tidak membaca ulang sebelum menerbitkan, sehingga salah ketik dan kalimat menggantung terbawa.
Kebiasaan membaca juga berpengaruh besar. Semakin sering kamu membaca tulisan orang lain, semakin cepat kamu mengenali kalimat yang janggal di tulisanmu sendiri.
Ringkasan
Menulis blog untuk siswa dimulai dari topik yang kamu kuasai, satu pembaca yang jelas, dan kerangka sederhana. Tulis draf tanpa menyunting, perbaiki setelah selesai, lalu terbitkan dan minta satu masukan. Semakin sering diulang, semakin cepat prosesnya dan semakin rapi hasilnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah harus punya blog sendiri untuk mulai menulis?
Tidak. Kamu bisa memakai blog kelas, platform menulis gratis, atau media apa pun yang bisa dibaca orang lain. Yang penting tulisanmu terbit dan bisa menerima masukan.
Berapa panjang tulisan yang ideal untuk tulisan pertama?
Sekitar 500 sampai 800 kata sudah cukup. Panjang bukan ukuran kualitas, dan tulisan pendek yang tuntas lebih baik daripada tulisan panjang yang berhenti di tengah.
Bagaimana kalau topik yang saya pilih ternyata sudah banyak dibahas orang lain?
Topik yang sama tetap bisa ditulis ulang selama kamu menambahkan sudut pandang sendiri, misalnya pengalaman pribadi atau cara yang berbeda saat mengerjakannya. Bagian itulah yang membuat tulisanmu punya nilai bagi pembaca.