Kamu sudah menulis lima paragraf, menekan tombol simpan, lalu besoknya membaca ulang dan menemukan kalimat yang tidak nyambung. Hampir semua penulis blog siswa mengalami ini. Cara menyunting tulisan sendiri adalah keterampilan terpisah dari menulis, dan urutan pemeriksaannya bisa dipelajari.
Sunting bukan sekadar mencari salah ketik. Ada beberapa lapis yang perlu diperiksa bergantian: isi, alur, kalimat, lalu ejaan. Kalau semuanya dicari dalam satu kali baca, mata akan lelah dan banyak kesalahan tetap lolos.
Pisahkan menulis dan menyunting
Tulis dulu sampai selesai tanpa mengoreksi apa pun. Berhenti di tengah untuk memperbaiki kata justru memutus alur pikiran. Setelah draf utuh, tinggalkan beberapa jam atau sehari. Saat kembali membacanya, kamu akan melihatnya dengan mata yang lebih jernih.
Cetak draf atau buka di layar lain bila bisa. Membaca di tempat yang sama dengan tempat menulis membuat otak cenderung mengisi kekosongan kalimat karena sudah tahu maksudnya.
Mulai dari pertanyaan besar
Bacaan pertama untuk isi, bukan tanda baca. Ajukan beberapa pertanyaan ke draf sendiri.
- Apa satu hal utama yang ingin pembaca bawa pulang dari tulisan ini?
- Apakah setiap paragraf mendukung hal itu, atau ada yang melenceng?
- Bagian mana yang bisa dibaca pembaca tanpa penjelasan tambahan?
- Apakah ada klaim yang butuh bukti namun belum diberi?
Paragraf yang tidak menjawab salah satu pertanyaan di atas biasanya kandidat untuk dipotong. Memotong bagian favorit memang tidak nyaman, tetapi tulisan yang pendek dan padat lebih sering dibaca sampai habis.
Periksa alur antar paragraf
Baca hanya kalimat pertama tiap paragraf secara berurutan. Kalau rangkaiannya sudah membentuk cerita yang masuk akal, alurnya cukup kuat. Kalau ada lompatan, tambahkan satu kalimat penghubung atau pindahkan paragrafnya.
Perhatikan juga paragraf pembuka. Pembaca memutuskan lanjut atau tidak dalam beberapa detik, jadi kalimat pertama harus langsung menyentuh masalah yang mereka cari. Ada panduan tersendiri soal cara menulis paragraf pertama blog yang menarik yang bisa kamu pakai sebagai pembanding.
Potong kalimat yang bertele-tele
Bacakan draf dengan suara pelan. Kalimat yang membuatmu kehabisan napas atau tersandung biasanya terlalu panjang. Beberapa pola yang sering muncul di tulisan siswa:
- Kata peredam seperti “sangat”, “sekali”, “cukup”, “agak” yang tidak menambah makna.
- Pembuka bertele-tele seperti “Pada kesempatan kali ini penulis ingin menjelaskan bahwa…”.
- Dua kata yang artinya mirip dalam satu frasa, misalnya “agar supaya” atau “sangat amat”.
- Kalimat pasif yang menyembunyikan pelaku, misalnya “kesalahan itu dilakukan” padahal kamu tahu siapa pelakunya.
Ganti kalimat panjang dengan dua kalimat pendek. Ritme yang berganti-ganti antara kalimat pendek dan panjang membuat tulisan lebih enak diikuti, seperti yang dibahas di cara menulis blog yang enak dibaca untuk siswa pemula.
Periksa fakta dan sumber
Setiap angka, nama, atau kutipan harus bisa kamu tunjukkan asalnya. Kalau kamu menulis “banyak penelitian menyebutkan” tanpa mengetahui penelitian mana, hapus frasa itu dan ganti dengan pernyataan yang kamu yakini sendiri.
Untuk tulisan yang memuat kisah orang lain, misalnya profil tokoh atau cerita keluarga, pastikan detailnya sudah dikonfirmasi ke narasumber. Prinsip ini juga berlaku saat kamu belajar menulis cerpen biografi dengan riset atau wawancara, karena detail yang salah akan terasa meski dibaca sekilas.
Rapikan ejaan di putaran terakhir
Baru setelah isi dan alur beres, periksa hal teknis. Baca dari belakang ke depan per paragraf agar mata tidak melompat mengikuti alur cerita. Perhatikan hal berikut:
- Ejaan kata baku dan penggunaan huruf kapital di awal kalimat serta nama diri.
- Tanda baca di akhir kalimat, terutama titik yang sering hilang saat menulis cepat.
- Spasi ganda dan spasi sebelum tanda baca.
- Konsistensi penyebutan nama, istilah, dan singkatan.
- Format judul dan subjudul, apakah sudah sejajar dan tidak terlalu panjang.
Fitur pemeriksa ejaan di aplikasi menulis bisa membantu, tetapi tidak menangkap kalimat yang secara tata bahasa benar namun maksudnya kabur. Beberapa aplikasi catatan punya pemeriksa bawaan yang cukup rapi, dan perbandingannya bisa kamu lihat di perbandingan aplikasi menulis catatan sekolah.
Minta satu orang membaca
Setelah semua putaran selesai, kirim draf ke satu teman dan minta dia menandai kalimat yang membuatnya berhenti membaca. Jangan minta pujian. Satu pembaca yang jujur lebih berguna daripada sepuluh komentar singkat di kolom komentar.
Kalau temanmu bingung di bagian tertentu, pembaca lain kemungkinan besar juga bingung. Perbaiki bagian itu, lalu publikasikan. Menyunting tidak akan pernah terasa sempurna, dan tulisan yang sudah cukup rapi lebih baik daripada draf yang tersimpan selamanya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa kali sebaiknya membaca ulang sebelum publikasi?
Cukup tiga putaran dengan fokus berbeda: satu untuk isi, satu untuk alur dan kalimat, satu untuk ejaan. Lebih dari itu biasanya hanya menggeser kata tanpa perbaikan berarti.
Apakah boleh meminta bantuan orang lain menyunting tulisan?
Boleh, terutama untuk memberi tahu bagian yang membingungkan. Namun keputusan akhir soal gaya dan isi tetap milikmu, karena tulisan itu akan terbit dengan namamu.
Bagaimana kalau waktu menulis sangat sempit, misalnya untuk tugas sekolah?
Prioritaskan dua hal: pastikan alur paragraf masuk akal dan tidak ada salah ketik di judul. Sisanya bisa dirapikan bertahap setelah tulisan terbit.